Tentang Kami

tentang-kami-foto-2

Nama Usaha: MeliBanten.com
Pembina: I Gusti Agung Made Wisnawa, ST.,MM.
Eka Jati: Agung Mangku Dalang 
TTL: Denpasar, 19 Maret 1982 
Alamat Workshop: Jl. Buana Kubu, Gang Asam XIV no.3, Desa Tegal Harum, Denpasar Barat 
Alamat Tempat Tinggal: Jl. Muding Indah II, no 9, Kerobokan 
Hp/Whatsapp: 0859 3613 7036

Latar Belakang

Agama Hindu khususnya di Bali tidak terlepas dari tiga kerangka Umat Hindu, yaitu Tatwa, Etika, dan Upakara. Tatwa dimana kita telah diberikan uger uger atau aturan tertentu dalam melaksanakan ajaran agama hindu melalui lontar lontar suci yang telah diwariskan oleh leluhur kita. Etika, dimana dalam pelaksanaan beragama kita selalu mengedepankan etika dalam melaksanakan ajaran agama hindu, mulai dari etika dalam melakukan persembahyangan hingga etika dalam melaksanakan pesembahan yadnya. Upakara, merupakan bagian yang paling penting dalam agama Hindu di bali, karena dengan adanya upacara maka umat hindu di Bali mampu memanifestasikan tuhan di dalam kehidupan sehari hari.

               Dalam kehidupan manusia mengalami banyak sekali perubahan. Hal ini juga mempengaruhi tatanan unsur pelaksanaan yadnya di Bali. Mulai dari awalnya masyarakat Bali bertani dan beternak sehingga dalam pelaksaan yadnya dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Bali. Masyarakat bali kala itu membuat persembahan yadnya dengan cara bergotong royong, dengan menghaturkan pala bungkah pala gantung, hasil dari perkebunan dan peternakan untuk mengucap syukur kepada Sang Hyang Widhi Waca. Setelah perubahan tatanan kehidupan masyarakat Bali dari pertanian beralih ke pariwisata, mulai masyarakat Bali mengalami pergeseran tatanan dalam melaksanakan yadnya. Mulai masyarakat Bali membeli sarana yadnya pada seorang sulinggih atau serati Banten (umumnya dari kalangan Brahmana) dengan harga yang bervariasi. Masyarakat Bali tidak peduli jumlah uang yang dikeluarkan, tidak peduli dan tidak mau mengenal makna dari Upakara yang di buat, karna orang Bali lebih gampang mencari uang dibandingkan dengan ngayah membuat Banten. Pada saat sekarang dalam teknologi 4.0 mulai ada pergeseran tatanan dalam beryadnya. Masyarakat mulai mencari makna dalam tatanan upacara. Karena selama ini masyarakat Bali hanya mengenal Banten yang banyak, mewah dan Mahal. Tanpa melihat dari segi makna dan kemampuan. Sering sekali masyarakat Bali menganggap upacara yang besar dan mewah merupakan persembahan yang paling mulia kepada TUHAN dan paling Benar dalam pelaksanaan beragama. Tanpa mereka sadari bahwa kebutuhan pokok mereka lupakan, kebutuhan yang paling dasar mereka lalai, dan kebutuhan untuk kehidupan kedepan mereka sia siakan.

               Dalam ajaran agama Hindu dan beberapa Lontar Suci telah menyebutkan. “YAN ADRUWE IKANG HARTA BRANA WENANG YADNYA KINERTIN NIRA, AYUA PINAKA BIUTA KARMA”, artinya, jika kita mempunyai harta kita wajib untuk melakukan yadnya, jika tidak akan mendapatkan musibah. Hal ini bermagsud jika kita mempunyai Harta Berlebih wajib kita beryadnya, Jumlah yadnya inipun diatur dalam agama Hindu yaitu 5% dari harta kita. Apakah ini berarti orang yang tidak punya harta tidak boleh beryadnya?, tentu boleh, bahkan wajib. Hanya masyarakat selalu berpandangan beryadnya selalu besar, padahal sebenarnya TIDAK. Yadnya harus dilakukan sesuai kemampuan. Dan Agama Hindu di Bali sangatlah fleksibel dalam beryadnya, yadnya ada 3 jenis tingkatan, yaitu Utama, Madya, Nista. jika memiliki harta berlebih maka lakukan persembahan dalam tingkat Utama, dan begitu sebaliknya sesuai kemampuan. Apakah mengambil tingkatan Nista tidak akan diterima dalam beryadnya. Utama Madya Nista adalah jenis tingkatan dari segi Bentuk, Jumlah Bahan dan Tingkatan Pemuput yang berbeda, tetapi Makna dan tujuannya SAMA. Contoh jika anda ingin pergi ke Ibu Kota Jakarta dari Bali, sesuaikanlah dengan kemampuan, klo anda punya harta lebih pakailah pesawat, jika harta menengah pakailah Bus Charter, dan jika harta kurang sebaiknya naik angkot dari satu stasuin ke stasiun lain. Inti nya adalah semua sampai kepada tempat tujuan. Hanya caranya berbeda dengan di kondisikan sesuai kemampuan. Contoh dalam upacara: apakah caru resi gana harus menggunakan Asu, klo mau lebih sederhana bias digantikan dengan angsa. Bagaimana dengan caru KEBO bisa digantikan dengan Burung Dara. Bagaimana klo harta menengah, pakai caru panca sato ( 5 ayam). Klo lebih sederhana lagi pakai caru ayam brumbun. Tujuan nya sama saja yaitu untuk nyomia sang butha kala. Apakah caru yang besar sudah pasti Butha Somiya? Apakah caru yang paling kecil juga Butha Kalla Somiya? Jawabannya TIDAK. Knp? Karena ujung yadnya di Bali adalah Sembah Bakti. Jika kita melaksanakan yadnya dengan tulus iklas dan melaksanakan sembah Bakti yang Tulus Iklas. Maka seberapapun yadnya yang anda lakukan akan di terima oleh Sang Hyang Widhi. Kembalilah ke Jati Diri Yadnya yang sebenarnya. Karna banyak masyarakat melupakan makna, lebih mengutamakan GENGSI, bahkan semua tabungan di keluarkan untuk membeli Upakara, bahkan sampai mencari kredit untuk beryadnya. Setelah selesai yadnya keluarga menjadi hancur karna kebutuhan tidak terpenuhi, sekolah anak terganggu. Apakah ini tujuan beryadnya? Tentu TIDAK. Oleh karena itu mari kembali ke Jati Mula, Kembali ke Makna, agar kita terbebas dari cengkraman paradigma yang salah.

Bagaimana tatanan kehidupan jaman sekarang. Mari kita kembali ke Makna dari Upacara itu. Agar yadnya di Bali tetap berlangsung, budaya tidak punah, tapi kita tetap bekerja sesuai dengan swadharma kita masing masing, dan tetap mengikuti Teknologi yang berkembang saat ini. Agar kita sebagai masyarakat Bali tidak terpaku pada yadnya yang kita tidak tau maknanya, sedangkan teknologi sudah mengantarkan manusia ke Bulan. Bagaimana menyikapi permasalahan ini? Kami dari YADNYA PARIKRAMA mencoba untuk menawarkan alternative kepada sebagian masyarakat Bali yang waktunya sangat terbatas dalam beryadnya. Yaitu dengan menawarkan paket Yadnya Upacara Sesuai dengan kemampuan. Sekali lagi dengan tanpa ada rasa merendahkan kemampuan setiap orang, kami memberikan pilihan yadnya Utama, Madya, Nista, agar masyarakat Bali tetap bisa bekerja, dan tetap dapat beryadnya tanpa menjadi Beban biaya yang tinggi.

Akhir kata kami ucapkan terimakasih karna telah ikut serta dalam mengajegkan Bali melalui Budaya khususnya dalam bidang Yadnya. Tetaplah bekerja, karna sesungguhnya dalam weda telah disampaikan “WAHAI ENGKAU MANUSIA, SELAMA KAMU MASIH HIDUP BEKERJALAH, KARNA AMERTA SUDAH AKU SEBARKAN DI DUNIA INI, KAMU HANYA PERLU BEKERJA DAN BERUSAHA UNTUK MENDAPATKAN AMERTA, JANGANKAN ENGKAU MANUSIA, AKU PUN BEKERJA TANPA HENTI, JIKA AKU BERHENTI BEKERJA BUMI INI AKAN HANCUR”

Permasalahan

Dalam pelaksanaan yadnya sudah mulai keluar dari konteks sebenarnya yaitu Utama, Madya Nista, atau dengan kata lain tidak disesuaikan dengan kemampuan

Banyaknya masyarakat Bali yang tidak mau lagi melaksanakan yadnya karna Upakara mahal, Waktu untuk malaksanakan terbatas

Kurangnya kesadaran masyarakat Bali terhadap pentingnya beryadnya

Keinginan masayarakat Bali agar yadnya dapat lebih praktis dan simple sehingga yadnya tidak menjadi ancaman dalam kelangsungan kehidupan masing masing

Memberikan edukasi dan pemahaman tentang yadnya sesuai dengan konteks Utama, Madya dan Nista, sesuaikan dengan kemampuan dan kepemilikan Harta masing masing

Dengan mengetahui Konsep Utama Madya Nista maka upakara tidak lagi mahal, dan waktu pelaksanaan yadnya dapat disesuaikan

Yadnya sangat penting di Bali

  • Untuk mempertahankan tradisi dan Budaya Bali, yang saat ini menjadi daya Tarik tertinggi dalam pariwisata Dunia
  • Dalam Lontar di Besakih di sebutkan “KAPAN MANUSIA BALI BERHENTI BERYADNYA, PADA SAAT ITU AKU KEMBALI KE MAHAMERU, SAAT ITU BALI AKAN HANCUR”

Menjadikan yadnya lebih praktis dan murah, tanpa membebani masyarakat Bali. Agar setelah beryadnya kehidupan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tujuan

Tujuan

Memberikan edukasi dan pemahaman tentang yadnya sesuai dengan konteks Utama, Madya dan Nista, sesuaikan dengan kemampuan dan kepemilikan Harta masing masing

Dengan mengetahui Konsep Utama Madya Nista maka upakara tidak lagi mahal, dan waktu pelaksanaan yadnya dapat disesuaikan

Yadnya sangat penting di Bali

  • Untuk mempertahankan tradisi dan Budaya Bali, yang saat ini menjadi daya Tarik tertinggi dalam pariwisata Dunia
  • Dalam Lontar di Besakih di sebutkan “KAPAN MANUSIA BALI BERHENTI BERYADNYA, PADA SAAT ITU AKU KEMBALI KE MAHAMERU, SAAT ITU BALI AKAN HANCUR”

Menjadikan yadnya lebih praktis dan murah, tanpa membebani masyarakat Bali. Agar setelah beryadnya kehidupan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

footer-foto

Kontak Kami

+62 859-3613-7036
Jalan Buana Kubu, Gang Asam XIV no.3 Denpasar

footer-foto

Kontak Kami

+62 859-3613-7036
Jalan Buana Kubu, Gang Asam XIV no.3 Denpasar

© Yadnya Parikrama. Designed by Bengkel Website